Rabu, 27 Juni 2012
Kalut (Part 5)
Rabu, 09 Mei 2012
Kalut (Part 4)
Senin, 07 Mei 2012
Kalut (Part 3)
Rabu, 11 April 2012
Kalut (Part 2)
Selasa, 10 April 2012
Kalut
Rabu, 04 April 2012
Part II
Selasa, 03 April 2012
Part I
Senin, 20 Desember 2010
Percakapan III
Percakapan Dengan Bayangan III (Si Pengfitnah)
”Ingin membenci ku tak bisa
Ingin menyayangi ku tak sanggup
Apa kabar hati? Kok jadi mati rasa gini?”
Jum’at sore, waktu itu ku rasakan perasaan lelah, muak, benci, kesal, jadi satu. Ntah apa yang tlah terjadi yang jelas aku sangat muak dengan permainan hidup. Seperti biasa, sepulang dari sekolah sore itu aku langsung mengambil air wudhu dan solat magrib. Ntah apa yang membuat ku lagi-lagi menitikan air mata ku di sajadah ku. Lama ku duduk berdo’a sampai sampai waktu isya. Lagi-lagi ketika sujud terakhir ku, ku jatuhkan air mata ku dengan derasnya, kali ini ku sadari apa yang tlah membuat ku menangis.
Selesai solat, ku pandangi wajah lemas dan mata sembab setelah menangis ku itu di cermin. Dan lagi-lagi bayangan itu menghampiri ku. Ahh, sebenarnya aku tak ingin bertemu dengannya lagi.
”Wahai sahabat, apa lagi yang terjadi dengan mu?”tanyanya dengan santun.
”Ntah aku ragu dengan ini,”jawab ku dengan nada rendah.
“Ceritakan saja, sapa tau aku bisa membantu mu,”katanya pada ku.
”Apa pantas aku dikatakan seorang penganggu? Yang mengusik hubungan dari mantan ku, pantas kah aku di panggil orang ketiga?”tanya ku sedikit emosi.
”Apa yang tlah kamu lakukan, sehingga hal itu terjadi?”tanyanya pada ku.
”Ntah, aku sendiri bingung. Aku hanya ingin kebenaran dari sebuah perasaan. Aku hanya ingin seseorang berhenti membohongi dirinya sendiri,”jawab ku.
”Lantas? Apa kau berhasil?”tanyanya lagi.
“Tidak sama sekali, dia salah paham, dia malah berfikir aku ingin merebutnya, dia malah berfikit aku ingin menggangunya, dan cukup sampai akhirnya aku mereka panggil ‘orang ketiga’ bahkan ‘setan’,”jawab ku.
“Sungguh tak ada niat lain selain itu?”tanyanya lagi.
”Sungguh, bahkan aku tak memiliki niat untuk melakukan itu. Aku baik-baik saja dengan keadaan ku sekarang. Tapi apa daya, kawan-kawan ku memaksa ku untuk menanyakan hal tersebut, sempat terlintas dalam otak ku ’apa dosa aku menanyakan hal seperti ini padanya?’ tapi kata mereka, aku harus dan ya aku lakukan itu kerena keinginan mereka bukan keinginan ku,” kata ku menjelaskan.
”Tunggu, kamu tau dari mana kalau mereka berkata seperti itu?”tanya bayangan.
”Hem, dari teman-teman ku,”jawab ku.
”Waah, jadi kamu difitnah? Sudah lah, mungkin kamu juga ada salah. Biar Tuhan yang tunjukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku tau manusia cuek seperti mu bisa menghadapi ini dengan senyuman,”kata bayangan padaku.
”Ya, tapi rasanya tak percaya difitnah terlebih yang melakukan orang yang menyangi mu, ya katanya. Tapi aku tau, cuman sakit rasanya difitnah seperti ini, punya image jelek di mata orang lain, yang tak tau apa yang terjadi sebenarnya,” kata ku.
”Ya cukup diam, dan mendengarkan. Aku tau kamu bukan perempuan lemah seperti mereka di luar sana. Kamu kuat dan kamu cukup tau apa yang harus kamu lakukan. Buka mati hati kamu, lupakan dia,”kata bayangan itu.
”Ya aku tak tau, aku mungkin tampak bodoh meyangi seseorang yang sama sekali ntah menyanyangi ku atau tidak, tapi cukup tau dan ku rasakan perasaan itu, walau tak pernah ku dengar kalimat itu dari bibirnya, tapi ku rasakan hal itu. Aku masih percaya dia menyayangi ku, tapi kenapa? Kenapa dia dengan teganya mengatakan hal itu pada semua orang? Aku ingin membencinya, aku ingin menamparnya, dan mencaci makinya, atas apa yang tlah ia lakukan, tapi cukup tau aku masih sangat menyayanginya,” lagi-lagi air mata ku jatuh sia-sia untuk orang yang tak pantas untuk ku tangisi.
”Hapus air mata mu, kamu cukup bijak menyikapi masalah mu, kamu cukup tau apa yang harus kamu lakukan,”katanya dan menghilang.
Tak sanggup ku paksakan diri untuk membencinya. Walau ku sadari diri ini cukup muak harus trus-trusan ia sakiti. Tapi sungguh, tak sanggup. Tetap saja aku menyayanginya. Biarlah, ku tak ingin menjadi orang yang suka membohongi perasaan ku.
by Miranti
Selasa, 26 Oktober 2010
Percakapan II
Percakapan dengan Bayangan part II
Lihat lah dia yang disamping mu
Aku masih disini, terjatuh dan tak dapat bangkit
Cukup sekali kau berbalik dan memandag ku
Aku tak butuh senyum mu, atau kau bantu untuk bangkit
Aku hanya butuh waktu untuk merelakan, dan bangkit dari sini
Hari sabtu, 23 oktober 2010. Hari ini tak seperti biasa ku terbangun cukup pagi, dengan tidur yang cukup malam, sekitar jam dua lewat tiga puluh
‘Tapi cukup munafik kawan ku,” jawab sosok bayangan itu.
“Astaga untuk apalagi kau datang, aku sudah tak butuh kau, tau kau?” bentak ku padanya.
“Yakin? Setelah kejadian semalam?”tanyanya dengan nada mengejek ku.
“Sialan kau, tau dari mana soal itu?”tanya ku pada bayangan itu.
“Ya tau lah, apa kau tak sadar? Aku selalu ada di samping aku bayangan mu yang tau siapa diri mu yang sebenarnya, bahkan apa yang tak engkau ketahui sekali pun dari diri mu aku tau!”kata bayangan itu pada ku.
“Apa? Seberapa tau kamu tentang aku? Oh Tuhan kenapa begitu banyak orang yang sok tau sama diri ku,” kata ku mengeras.
“Hahaha. Kamu yang sok tau sama diri kamu sendiri? Munafik kamu tau munafik? Ya kamu lah yang munafik!”kata bayangan itu membuat ku makin geram.
“Trus apa yang kamu inginkan dari ku?”tanya ku melunak.
“Ambil saja dulu handphone mu,”suruhnya pada ku. Ku ambil handphone ku.
“Lalu buka inboxnya, aku yakin sms itu berada paling atas,”suruhnya lagi.
“Lalu?”tanya ku.
“Bacakan untu ku,”katanya.
“Sudah bisa lupain aku ya? Boleh tau gimana caranya?”ku bacakan sms itu ntah lah kali itu hati ku terguncang membaca sms itu beda jauh saat semalam pertama kali ku baca sms itu.
“Dari siapa sms itu?”tanya banyangan seakan tak tau.
“Sudah lah tak usah terlalu banyak basa basi, kau cukup tau siapa orang itu! Aku tak ingin mengucapkan namanya di depan mu,” kata ku mulai kasar lagi.
“Oke, setelah kamu baca apa yang kamu rasakan?”tanyanya seolah tau guncangan dahsyat dalam dada ku yang baru saja terjadi, bahkan yang sampai saat itu masih terasa kerasnya.
“Biasa saja,”kata ku berbohong.
“Munafik, sekali ku tanya, apa yang kamu rasakan setelah ini?”tanyanya lagi.
“Biasa saja, kau mengerti kata biasa? Aku tak merasakan sesuatu!”kata ku meyakinkannya.
“Mesti aku bilang berapa kali munafik, aku tau apa yang kamu rasakan, semua tentang kamu aku tau! Ku tanya sekali lagi, apa yang kamu rasakan?”tanya bayangan itu lagi.
“Biasa saja, aku tak merasakan apa pun, sms biasa,”jawab ku datar pada bayangan itu.
“Dasar munafik, kau bohongi aku lagi, sekali lagi ku tanya apa yang kamu rasakan?”tanyanya kali ini bayangan itu tampak marah.
“Ya, aku merasakan guncangan dalam hati yang cukup kuat,”akhirnya ku jawab pertanyaanya dengan titikan air mata.
“Dasar cengeng, apa tak ada hal lain yang dapat kau lakukan selain menangisi kemunafikan mu itu? Hahaha. Bahkan itu sama sekali tak akan membuatnya kembali padamu!”katanya mengejek ku.
“Buat apa kau tanyakan hal yang tlah kau ketahui? Mengapa tak langsung saja kau berikan ku saran? Kau tau bukan apa yang terjadi pada ku?”tanya ku padanya.
“Ahh sudah lah, ikuti saja apa yang ku perintah, jawab dengan jujur apa yang ku tanya, jangan berbohong atau tak akan kau dapatkan jawabannya!”katanya membentak ku.
“Lalu?”tanya ku.
“Jawab sms itu dengan jujur kata
“Aku belum melupakan mu, bahkan sedikit pun kenangan itu belum ada yang hilang dalam otak ku. Kalau mungkin kamu memikirkan aku melupakan mu, mungkin itu karena aku sudah nyaman dengan situasi ku yang sekarang. Aku cukup bahagia dengan semua teman-teman ku yang peduli dan selalu setia menghibur ku. Aku pikir juga tanpa mu tidak seburuk yang aku bayangkan,”kata ku memenuhi permintaan bayangan.
“Bagus, lalu mengapa kau malah membalas smsnya dengan sindirian tajam atas apa yang ia lakukan pada mu? Kau membalasnya dengan kalimat “yang jelas nggak dengan cara nyari orang lain buat dijadikan pelarian”. Bisa kau jelaskan?”tanyanya.
“Semalam aku cukup kaget dengan sms itu, aku pikir dia yang sudah melupakan ku. Bahkan aku pikir dia sudah tak punya niat untuk sekedar menyapa ku, ya aku bukan siapa-siapanya lagi. Aku hanya mantan pacarnya yang pernah menyia-nyiakannya. Tak lebih baik dari pacarnya yang sekarang. Ya mungkin dia cukup bahagia bersama pengganti ku. Tapi ketika ku baca smsnya beribu pertanyaan datang. Apakah ini hanya sebuah betuk kasian dia terhadap aku yang tlah ia sakiti? Atau memang tulus karena ia perhatian pada ku? Atau karena dia takut aku benar melupakannya? Ya tapi semua cukup jelas, lihat lah aku, aku masih jomblo. Tak seperti dia, dia tlah memiliki pengganti ku. Aku pikir, aku memang belum dapat melupakannya. Jadi lebih baik aku bertahan menjadi seperti ini, ketimbang harus menyakiti seorang lelaki lagi,”kata ku jelas.
“Lalu? Mengapa kau balas smsnya dengan kalimat yang seperti itu? Kau belum menjawab pertanyaan ku kawan,”tanyan lagi.
“Karena aku kesal padanya, dia seolah mengejek ku, dia seolah menanyakan ku siapa orang yang dapat membuat mu melupakan ku. Atau dengan kata lain siapa nama pacar baru mu. Ya mungkin salah aku tidak postif thinking dulu, tapi kalau pun memang ia mengirimkan itu karena ia takut aku melupakannya, untuk apa? Dia cukup bahagiakan dengan perempuan baru itu?”tanya ku.
“Tau dari mana kamu tetang itu? Apa kamu tau apa yang ia rasakan? Ia pikirkan? Apa kamu tau ia sedang bahagia atau tidak?”tanya bayangan. Aku hanya terdiam.
“Kau tak tau apa-apa tetang mantan mu itu. Yang kamu tau bagaimana membuat mu bahagia dengannya, tanpa memikirkan perasaannya dan kebahagiaannya. Kurang baik apa mantan mu itu? Sekarang kamu menyesal iya bukan?”
“Berhenti dan pergi kalau yang kamu lakukan hanya untuk mengungkit semua kesalahan ku!”kata ku padanya sambil menangis.
“Tak ada kah jalan untuknya lagi?”tanya bayangan itu.
“Kau tau bukan semua tentang ku? Jawab lah itu sendiri!”kata ku berat karena air mata yang berjatuhan semakin banyak.
“Maafkan aku, tapi berhenti lah membohongi diri mu sendiri. Kau tau apa yang terbaik buat diri mu. Tapi mengapa selalu kau berikan yang salah untuk dirimu sendiri?”katanya pada ku. Aku tetap memangis dan tak ku jawab lagi perkataannya.
Akhirnya bayangan itu pergi, aku hanya terdiam menatap sosok di cermin. Air mata itu masih berjatuhan. Aku tau aku cukup munafik sebagai seorang yang masih mecintainya. Tapi aku hanya tak ingin melihat pasangannya terluka karena aku yang masih menyimpan rasa. Aku cukup sadar aku bukan lah siapa-siapa. Tapi salah kah aku kalau aku tetap menyimpan rasa ini? Terlalu indah untuk ku buang, terlalu manis untuk ku telan, namun terlalu pahit untuk ku rasakan.
Sabtu, 23 Oktober 2010
Percakapan
Percakapan dengan Bayangan
Bahkan bayangan mu merasakannya
Berehenti membohongi diri mu
Lihat lah, betapa indah hari esok
Alarm berbunyi, ku terbangun dari tidur lelap ku. ‘Hoam,’ aku menguap dan megangkat kepala ku dari bantal yang selalu menemani ku tiap malam. Yang ikhlas ku tetesi air mata ku ketika ku sedih. ‘Ugh’ ku renggangkan seluruh tubuh ku dan perlahan turun dari tempat tidur. Ku buka jendela kamar ku, dan sinar matahari menyambut ku. Seolah berkata ‘Good morning, I ready light your day, are you ready for today? Don’t be sad, keep smile to me.’ Aku tersenyum dan berkata ‘Thanks, I’ll try it’.
Segera ku ambil handuk dari gantungan belakang pintu kamar. Masuk ke dalam kamar mandi. Hal yang selalu ku lakukan di hari libur, berlama-lama di dalamnya. Merasakan sentuhan dingin air yang melunturkan semua kelelahan ku dalam minggu ini. Bermain-main dengan air yang mengalir. Sampai tak terasa tlah ku habiskan waktu lama di dalam sini. Segera ku keringkan badan ku.
Lekas ku pasang pakaian. Lalu duduk di depan meja rias ku. Ku pandangi wajah ku. Mata ku tampak sendu. Terlihat jelas, bekas tangisan ku semalam. Tiba-tiba tampak bayangan itu menyapa ku.
“Hey kawan apa yang anda pikirkan?” tanyanya ramah.
“Seorang laki-laki yang tlah lama mengisi ruang kosong di hati ku,”jawab ku pelan
“Apa kamu yakin dia masih memikirkan mu?”tanyanya lagi
“Tentu saja tidak, mungkin otaknya hanya ada perempuan itu,”jawab ku
“Lalu, mengapa kau lakukan itu trus menerus?”tanya bayangan itu penasaran.
“Ntah lah, aku masih teringat semua kesalahan yang tlah ku lakukan kepadanya,” jawab ku dengan nada sedikit rendah dari awal.
“Kesalahan apa yang kamu lakukan padanya?”tanya bayangan.
“Ku menyia-nyikannya, mempermaikannya dan tlah menyakitinya,”kata ku sambil menitikan air mata yang tak sengaja terjatuh.
“Lalu?”tanya bayangan seolah tau ada hal lain yang masih ku sembunyikan.
“Ya, aku tak ingin melakukannya sungguh. Tapi mungkin aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan ego dan perasaan ku tanpa memikirkan perasaanya. Aku takut, takut menunjukan semua perasaan ku. Aku takut disakiti dan kecewa pada akhirnya,”jawab ku dan tak ku rasa air mata telah banyak berjatuhan.
“Kau menyesal?”tanyanya.
“Sangat,”jawab ku berat.
“Berhenti lah menangis kawan,”katanya pada ku.
Aku terdiam dan hanya dapat melihat bayangan itu. Masih ku teteskan air mata ku. Semakin deras keluar deras sampai ku tak dapat lagi berkata-kata.
“Sering ku lihat akhir-akhir ini mata mu sembab, ku tau ku lihat air mata mu yang menetes pada bantal tidur mu. Seandainya ia dapat berkata. Mungkin ia akan memohon juga pada mu, untuk berhenti menyesal dan menangisinya. Sering ku lihat wajah munafik mu yang kamu tunjukan pada semua teman-teman mu. Sekedar ingin dianggap wanita tegar nan ikhlas. Senyum manis yang biasa kamu berikan, tak semanis biasanya. Terasa hambar, walau tlah kau coba seikhlas mungkin memberikannya pada semua orang. Berhenti menyesali apa yang tlah terjadi, tak akan pernah mengubah segalanya,”kata bayangan sentak membuat ku sadar.
“Iya, namun ku sesali segala perbuatan ku kepadanya. Kesalahan ku yang tlah ku buat, aku tak sanggup harus merasa bersalah,”kata ku dengan suara serak.
“Minta maaf lah kawan, pintu maaf masih terbuka untuk mu, belum terlambat. Tiap-tiap manusia pernah melakukan kesalahan dan mempunyai hak untuk memperbaik kesalahannya,”katanya pada ku
“Tapi semua tlah terlambat bukan untuk ku perbaiki?”tanya ku pada bayangan.
“Cukup minta maaf, mungkin akan membuat mu lebih lega,”katanya pada ku.
“Oke, akan ku coba,”kata ku.
“Tapi tunggu, bagaimana dengan rasa sakit ini? Aku masih merasakannya?” tanya ku pada bayangan itu.
“Untung kau ingatkan aku dengan hal yang satu ini, padahal ini yang terpenting,”kata bayangan kepada ku.
“Bagaimana?”tanya ku lagi.
“Terima lah apa yang tlah Tuhan berikan pada mu, bersyukur atas apa yang tlah terjadi pada mu. Terkadang Tuhan memang tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuh kan,”kata bayangan sambil tersenyum dan menghilang.
“Terima kasih,” kata ku sambil tersenyum dan ku hapus air mata yang menetes di pipi ku.
Ku tersenyum lega. Ku sadari bahwa segala penyesalan yang ku lakukan tidak berguna sama sekali. Ku ambil secarik kertas dan ku tulis sebuah surat untuknya.
Dear my ex,
Minta maaf kalau selama ini pernah nyakitin kamu. Mungkin selama ini aku jahat banget sama kamu. Sampai sesakit ini balasan yang kamu kasih ke aku. Aku nggak berharap lebih kamu bisa memaafkan ku. Cukup tau kamu aku ngerasa bersalah udah lebih dari cukup. Mungkin ini yang terbaik. Sayangi dia seperti saat kamu menyayangi ku. Nggak mudah buat aku melupakan segala yang telah terjadi diantara kita.
Salam
Ku baca ulang surat yang ku tulis. Ku tersenyum dan ku lipat surat itu. ‘Aku harap surat ini dapat secepatnya kamu baca’ harap ku dalam hati.
Minggu, 10 Oktober 2010
Aku Ingin Sendiri Dulu
Lebih baik ku biarkan diri ini sendiri
Lebih baik ku biarkan diri ini kesepian
Ku tau, ku sadar, dan ku paham
Aku sama sekali tak pantas untuk bahagia bersamanya
“Kak, jadi tidur di pondok nenek?”tanya papa.
“Jadi doong pa, ayook pergi,”ajak Ara
Malam minggu ini Ara habiskan waktunya bersama keluarga. Kebetulan di rumah cuman bertiga, adeknya sedang pergi keluar kota bersama omnya. Ya akhir-akhir ini setelah putus dari pacarnya, dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sekedar bantu mama motong sayur di dapur, nonton film bareng papa, atau bercanda sama keluarga. Waktu yang tersisa setelah sibuk belajar di sekolah dia habiskan bersama keluarganya. Tampaknya ia mulai terbiasa dengan hal itu, dan kelihatan sekali dia tampak bahagia sekarang.
“Assalamualaikum,”Ara memberi salam sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab nenek sambil membukakan pintu.
“Aku mau tidur disini ya nek, hehehe. Di rumah sepi nggak ada yang bisa diajak berantem sih,” kata Ara pada neneknya.
“Yaudah, tidur aja sini,”jawanb nenek.
Setelah dia makan-makan dan duduk-duduk di teras pondok neneknya. Ngantuk pun menyergapnya. Ia pun langsung pergi ke kamar untuk tidur. Waktu sudah menunjukan hari sudah malam, jarum jam sudah mengarah pada angka 10. “Pantas sudah lewat dari jam tidur ku yang biasa” katanya dalam hati. Ia pun mulai tertidur lelap. Dua jam kemudian ia mendengar suara hpnya berdering segera ia angkat telfon itu, dia teringat janjinya untuk menemani Aziz sahabatnya begadang mala mini.
“Iya ziz, kenapa? Ngantuk banget nih,”tanya Ara
“Ra, aku sayang sama kamu,”kata Aziz
“Iya aku juga kok ziz, hoaaam,” jawab Ara sambil menguap
“Ra, cewek yang aku ceritain yang aku bilang mau aku tembak itu kamu. Mau nggak?” tanya Aziz, Rara pun langsung kaget.
“Apa? Astaga, tapi kamu tau sendiri aku baru putus ya nggak baru sih, tapi aku masih sayang sama dia, aku nggak mau cuman jadiin kamu pelampiasan dan akhirnya sama lagi aku nyakitin orang yang sayang sama aku, nggak mau ahh ziz” jawab Ara.
“Yah,”Aziz kecewa.
“Maafin aku, tapi aku lebih nyaman sahabatan sama kamu, terima kan ya?” Ara merasa bersalah.
“Iya Ara, nggak apa-apa kok, aku maklum,”jawab Aziz sedikit membuat Ara lega
“Yauda deh, bobo gih udah malam,”kata Ara
“Sip bos,”jawab Aziz yang langsung memutuskan telfon.
Imipian semua orang bisa jadian pas tanggal 10 bulan 10 tahun 2010 pas jam 00:00. Kurang apa bagusnya itu tanggal, sempurna banget. Tapi di mata Ara, dia belum bisa berubah jadi seorang yang lebih baik, yang bisa menghargai perasaan seorang laki-laki. Dan menjadi seseorang yang tidak selalu menyia-nyiakan orang yang menyayanginya. Ia sadar betul akan kekurangannya itu. Dia pikir lebih baik ngejomblo kesepian, ketimbang pacaran dan hanya bisa menyakiti perasaan pasangannya.
Lagi pula dia masih terlalu sayang sama mantannya dan nggak adil kalau dia nerima Aziz cuman untuk pelampiasan saja. Cukup itu terakhir kalinya dia menyakiti perasaan orang sebaik mantannya.