Laman

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2012

Kalut (Part 5)


Kalau aku bilang aku kangen kamu. Kamu bakal lari dan bilang “aku juga kangen kamu” nggak?

“Viola,”panggil Radit untuk kesekian kalinya. Entah apa yang sedang berada di dalam kepala Viola. Sudah hampir lima menit dia melamun dan sama sekali nggak menghiraukan Radit.
“Hah? Apaa, Dit?”Viola tersentak kaget mendengar suara Radit. Lamunannya seketika itu juga bubar.
“Gila. Ngelamunin apa woy? Segitu seriusnya. Ckck,”tanya Radit heran melihat kelakuan sahabatnya akhir-akhir ini.
“Ehehehe. Nggak kok, Did. Kurang tidur aja akhir-akhir ini,”jawab Viola ngeles.
“Oh gitu,”Radit mengangguk puas dengan jawaban Viola, yang membuat perasaan Viola lebih lega. Bukan nggak tahu, tapi Radit tahu pasti apa yang ada di kepala Viola sekarang. Mantan. Ya bukannya memang itu yang selalu ada di dalam kepala Viola. Entah lem apa yang sudah dipakai Rio buat nempel dirinya di dalam dinding pikiran Viola.

***

Buat kesekian kalinya Viola nggak bisa ngontrol pikirannya sendiri.
“Arrrggghhh! Bisa kali ntaran aja nongolnya,”Viola bicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja ponsel Viola bergetar. Diikuti detak jantungnya yang semakin kencang. Senyum Viola merekah dan satu hal yang dia tahu sekarang bahwa dia bahagia.

Boleh jujur nggak? Jujur kalau aku kangen banget sama kamu.

Rabu, 09 Mei 2012

Kalut (Part 4)


Ini sebenarnya kurang adil. Ya tapi aku tidak bisa menuntut apa-apa karena kamu bukan Sang Themis. Mungkin ini satu-satunya cara untuk aku tetap menyayangimu, dengan tetap berada disini bersama bayanganmu. Tanpa harus memiliki wujudmu. Kamu tahu bukan? Cintak tidak harus selalu memiliki.

Saat ini perasaan Viola jauh lebih membaik dari kemarin. Kondisinya juga tidak seperti hari-hari kemarin. Hanya saja ada satu hal yang mengganjal pikirannya dan mengusik relung hati paling dalam. Yaitu………
“Vi!”seorang teman Viola mengagetkannya.
Viola yang terkejut langsung menarik nafas panjang. “Fiuh, lain kali jangan ngagetin. Kenapa?”tanya Viola dengan perasaan sedikit kesal.
“Iyaiya, maaf.”kata teman Viola dengan nada menyesal. “Kamu sudah tau kabar terbaru belum, Vi?”tanya teman Viola dengan antusias.
“Kabar terbaru apa? Tentang siapa?”tapi respon Viola sangat datar.
Tanpa menghiraukan respon Viola yang tak acuh teman Viola langsung menceritakan semua kabar yang dia anggap penting untuk Viola. “Jadi ya, Vi ini kabar baik banget buat kamu. Good news gitu deh.”temannya itu menarik nafas dalam lalu melanjutkan ceritanya. “Mantanmu, itu si Rio. Baru aja putus. Kamu belum liat status hubungannya di facebook? Katanya sih karena keputusan bersama. Tapi, si cewek galau uterus tuh, Vi. Tau rasa deh dia sekarang.”teman Viola menunggu respon Viola. “Vi? Kamu dengar aku kan?”tanya teman Viola sambil mengibaskan tangannya di depan muka Viola.
Viola teringat perkataan Rio semalam. Sekarang aku pikir uda saatnya aku hentikan semua ini ketimbang makin menyakiti banyak orang. Jujur saja, Viola kurang mengerti sama maksud perkataan Rio. Namun, sekarang Viola paham apa yang dimaksudnya. Lalu? Apa maksud dari semua kejadian beberapa bulan ini? Rasanya seperti terbangun dari mimpi buruk.
“Vi? Kamu dengar aku kan?”suara dari seseorang di depan Viola membubarkan semua lamunan Viola.
“Eh iya, maaf. Iya aku dengar kok. Hehehe.”jawab Viola salah tingkah.
“Terus menurutmu gimana? Kabar bagus kan?”tanya teman Viola tidak sabar menunggu jawaban dari Viola.
“Ah, no comment deh.”ucap Viola sambil menjulurkan lidahnya. “Anyway, thanks loh ratu gosip infonya.”kata Viola sambil terkekeh.
Viola melanjutkan lamunannya yang sempat terhenti tadi. Mulai memikirkan lagi apa yang harus ia jawab. “Gini Vi, aku tahu ini susah baut kamu. Tapi, aku pengen kita mulai cerita kita dari awal.” Kalimat itu yang diucapkan Rio semalam. Semudah itu? Tidak. Tidak akan semudah itu. Karena walau Viola menganggap semua ini hanya mimpi buruk, tapi dia merasakan sakitnya. Jadi, tidak semudah itu.
Viola tersenyum pahit melihat kenyataan karena apa yang terjadi bukan sebuah mimpi. Disaat dia sangat berharap semua hanya mimpi buruk. Dia benar-benar sudah dikhianati oleh seseorang yang dia anggap entah apa namanya. Tapi, haruskah kesempatan diberikan?
Sungguh sampai saat ini aku sangat membutuhkan wujud itu. Namun, pilunya tak terkira. Aku menyayanginya sepenuh hatiku, tapi dia tidak. Haruskah aku mempercayai orang telah menghancurkan janjinya sendiri? Sepertinya untuk kali ini cintak tak harus memiliki.


Senin, 07 Mei 2012

Kalut (Part 3)


Kenapa harus ada ‘dia’ setelah ada ‘kita’ dan merebut ‘kamu’ agar menjadi ‘kalian’. Seharusnya aku cukup pandai untuk berhenti menyayangi lelaki yang hanya berpura-pura menyayangiku.

“Sayang, bangun dong. Sudah jam berapa nih?”suara mama membuat mata Viola terbuka. Sepertinya hari ini dia tidak ingin sekolah dulu.
“Ma, aku ijin yah. Kepalaku pusing banget.”ucap Viola lirih. Lalu mamanya memegan dahi Viola dan mendapati badan anaknya itu panas.
“Ya ampun sayang, badan kamu panas banget.”ucap mama Viola prihatin.”Yaudah, nanti ke rumah sakit ya sayang.”ucap mama lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Viola.
“Ya ma,”ucap Viola dengan nada lemah.
Viola benar-benar tidak kuat untuk bangun pagi ini. Badannya semua mengigil, kepalanya pusing. Rasanya pingin muntah, dan perutnya mual sekali.
“Maghnya kambuh, terus sepertinya Mbak Viola kecapean. Maklum ya bu, sudah kelas 9 biasa kegiatan di sekolah pasti padat sekali. Istirahat aja dulu ya mbak, makannya nggak boleh malas-malas,”jelas dokter penuh perhatian.
“Iya dok,”ucap Viola manut.
“Jangan iya-iya aja, memang tuh dok, Viola malas banget makannya. Tolong vitamin nambah nafsu makannya ya dok.”kata mama pada dokter.
***
“Yaelah ma, kayak anak kecil aja pake vitamin nambah nafsu makan. Viola kan uda gede,”protes Viola.
“Iya mama juga tau, kamu nggak butuh vitamin ini.”kata mama tak peduli.
“Nah itu mama tau, terus kok minta vitamin ini?”sambil mengangkat botol vitamin penambah nafsu makan.
“Ya mama tau kamu cuman butuh Rio buat nambah nafsu makan. Tapi kan kalo ada vitamin ini paling nggak bisa ngereplace Rio, Vi.”ucap mama sambil terkekeh.
“Iss.”muka Viola memerah seketika.
“Kamu lagi nggak temenan sama Rio ya, Vi?”tanya mama pada Viola.
“Nggak tau,”jawab Viola tidak peduli.
“Jangan gitu dong sayang, Viola nggak boleh nggak temenan gitu.”Viola minta maaf sama Rio kalau Viola punya salah.”mama menasehati Viola.
“Tapi, Rio ma yang jahat sama Viola.”protes Viola.
“Memang yang minta maaf harus yang salah ya? Nggak kan, sayang?”mama menasehati Viola.
“Iya ma, iya.”Viola tidak peduli.
“Ayo dong sayang, jangan gitu. Janji sama mama yah? Secepatnya minta maaf sama Rio. Oke?”pinta mama pada Viola.
“Iya ma, Viola janji.”
“Nah itu baru anak mama.”ucap mama sambil mengelus kepala Viola.
***
Seperti yang dikatakan mamanya dan janji Viola. Viola meminta maaf pada Rio ketika Viola sembuh.
“Rio?”sapa Viola ragu.
“Iya, Vi? Kenapa?”tanya Rio kaget mengetahui siapa yang menyapanya.
“Nggak, aku cuman mau minta maaf.”ucap Viola.
“Minta maaf buat apa?”tanya Rio heran.
“Nggak tau, kalau aja aku punya salah sama kamu,”jawab Viola.
“Nggak Vi, Violanggak salah. Seharusnya aku yang minta maaf. Viola mau kan maafin Rio?”tanya Rio gores penyesalan terlihat jelas di wajah Rio.
“Iya, Viola maafin.”kata Viola sambil tersenyum.
“Beneran?”tanya Rio.
“Beneran dong.”ucap Viola yakin.
“Maafin Rio, karena sudah membawa dia dan menghancurkan kita. Mengkhianati kita dan memilih dia. Tapi, Viola mau percaya kan? Rio masih sayang Viola.”ucap Rio lirih.
Viola hanya menganggukan kepalanya. Harus sampai kapan kamu berpura-pura menyayangiku? Tanya Viola dalam hati. Aku bahagia dengan kebohongan ini, Rio. Viola mengakui dalam hati.
Untuk dia yang menghancurkan kita, bersiaplah dengan karmamu. Semoga kelak kamu diberi kesabaran lebih. Karena cinta sejatimu, tidak akan meninggalkan orang yang dia sayangi hanya demi kamu.



Rabu, 11 April 2012

Kalut (Part 2)



“Hal yang paling miris adalah ketika orang yang dulu kamu kira sangat menyayangimu, dan sekarang kamu sadari hanya berpura-pura menyayangimu.”

“Selesai,”Viola bernafas lega. Akhirnya tugas artikel dari guru bahasa Indonesianya selesai. Dia yang dari tadi nahan hasrat ingin buang air tidak kuasa lagi menahan. Dengan cepat iya berlari ke WC. Tapi sesampainya di depan WC, Viola mendengar seseorang di dalamya sedang berbincang.
“Iya tuh, seneng banget. Dih, padahal juga cuman karena kasian aja makanya si Rio sms gitu,”seketika itu juga air mata Viola meleleh keluar dari mata dan membasahi pipinya. Setan. Teriaknya dalam hati. Aku nggak butuh dikasihani, aku juga nggak butuh kalimat yang tidak ada isinya. Sampah. Sampai kapan pun aku tidak akan ingin percaya lagi dengan omonganmu. Viola menyalahkan dirinya sendiri karena telah mempercayai omongan Rio.
Tiba-tiba saja dua adik kelasnya itu keluar dari WC. Dengan wajah kaget mereka menatap Viola yang mencoba menutupi air mata yang baru saja menghujani pipinya. “Permisi,” dengan suara tertahan di tenggorokan dan sedikit serak Viola mencoba sopan kepada dua adik kelasnya itu. Lalu masuk ke dalam WC. Seketika hasratnya untuk buang air hilang.
“Vi, barusan ngeluarin air dari bawah apa dari mata?”tanya seorang teman Viola sambil terkekeh.
“Hah? Pipis lah,”Viola ngeles.
“Nggak usah boong, Vi. Itu mata merah karak orang habis nangis. Mana ke WC lama banget.”Viola tidak menjawab dan hanya tersenyum pada temannya. Pikirannya melayang pada perkataan yang di dengarnya tadi di depan WC.  Seakan masih tidak terima, Viola megepalkan tinju dan memulukkan tangannya ke meja.
“Vi, kamu nggak apa-apa kan ya?”seorang temannya menanyakan keadaan Viola.
“Eh, hehehe. Nggak apa-apa kok.”Viola menjawab asal sambil tersenyum.
Teman-teman Viola hanya mengangkat bahu. Mereka mengerti bahwa bukan saatnya buat menanyakan. Mungkin suatu saat juga Viola akan menceritakan pada mereka. Sedangkan Viola masih saja memikirkan perbicangan dua orang dalam WC tadi. Yah, aku tahu mungkin aku pantas memang buat dikasihani, tapi aku nggak butuh dikasihani dengan kebohongan. Seharusnya juga aku sadar Rio nggak pernah sayang aku, dulu, dan sampai kapanpun. Viola memejamkan mata lalu menumpuk kepalanya di atas kedua tangannya yang ia lipat.

Selasa, 10 April 2012

Kalut


“Karena yang menyakitkan bukan setelah kamu meninggalkanku, tapi setelah aku tahu aku sama sekali tidak berarti apapun buat kamu”

Malam  ini air mata tidak dapat dengan mudah dihentikan oleh Viola. Perasaannya yang mulai ia susun ulang malam itu juga dihancurkan lagi. Setelah melihat status relationship sang mantan berubah. Ah, secepat itu kah? Mungkin Rio memang tidak pernah menyayanginya, secuil pun Rio tidak pernah menyayanginya.
“Viola,”suaru yang akrab di telinga Viola menghamburkan semua lamunan Viola. Radit, sahabat Viola yang khawatir dengan keadaannya secepat kilat langsung pergi ke rumah Viola.
“Vi, kamu nggak apa-apa kan?”tanya Radit penuh kekhawatiran.
“Ya, seperti yang kamu lihat lah, Dit.”Viola menghapus air mata yang jatuh namun itu sama sekali tidak membuat air matanya berhenti berjatuhan.
“Iya aku ngerti, Vi. Tapi penting nggak sih nangisin cowok kayak dia?”
“Nggak.”
“Itu tahu.”
“Iya, tapi mala mini aja. Aku pengen ngeluarin semuanya lewat air mataku. Besok aku janji udah nggak aka nada lagi air mata.”
“Yakin?”
“I am sure.”
“Guuuud. Kalau gitu sekarang, mending kamu makan. Mama kamu bilang kamu belum makan dari tadi pagi.”
“Halah, bilang aja kamu juga laper pengen numpang makan.”
“Kok pinter baca pikiran orang sih? Hebat banget. Jangan-jangan keturunan mama Laurent yah?” Radit terkekeh. Akhirnya Viola tertawa.

Rabu, 04 April 2012

Part II


Jealous

“Iya, aku tahu dia cuman teman kecilmu, tapi dia tetep cowok, bisa aja kan kalian saling suka?”-Farel

”Tadi sore sama siapa? Kemana?”tanya Farel malam itu.
”Nyari makan, sendiri, Rel,”jawab Tya.
”Yakin?”tanya Farel meyakinkan.
”Iya, kenapa emangnya?”tanya Tya.
”Aku ngeliat kamu berduaan sama cowok di depan rumah tadi sore, siapa tuh? Nggak cerita-cerita nih?”Farel mengintrogasi.
”Oalaah, kenapa nggak mampir? Itu Nico, Rel. Dia teman kecil aku. Dulu rumahnya di samping rumahku, tapi dia pindah. Ohiya Rel, ntar SMA kita bakal satu sekolah loh sama Nico. Ntar, aku kenalin deh sama Nico. Besok kan kita ada tehnikal meeting buat MOS, pasti ketemu,”jelas Tya.
”Hem..”Farel sama sekali tidak tertarik.
”Hayooo? Cemburu yah?”goda Tya sambil mencubit pipi Farel.
”Hem..”Farel lagi-lagi hanya berdeham.
“Rel ah, gitu aja marah. Nggak percaya sama aku? Yaudahlah.”sekarang Tya yang jadinya malah kesal dengan Farel.
”Nggak Tya, maaf yah. Iya, aku percaya aku percaya.”ucap Farel bohong, sebenarnya dia cemburu. Farel memang begitu, sangat cemburuan.
“Bener yah? Nggak cemburu yah?”tanya Tya memastikan.
“Nggak Tya, nggak cemburu. Tya kan sayangnya cuman sama Farel kan?”goda Farel.
“Iya doong. Hahahaha.”jawab Tya.
“Good girl.”ucap Farel sambil mengacak rambut Tya.
“Farel tuh, yang nakal, pasti banyak kan yang disayang?”goda Tya.
“Iya banyak banget.”Farel mengiyakan.
“OH!”respon Tya ketus karena kesal mendengarnya.
“Iya banyak, Alistya, Tya, Alis, Nanda, Riya, Yani, Nadariyani. Hahahaha. Banyak kan?”guyon Farel sambil tertawa dan mencubit pipi Tya.
“Yayayaya.”jawab Tya jutek.
“Hehehe. Jangan marah sayang. Ntar cepat tua loh. Aku cuman sayang kamu. Jangan ngambek yah?”gombal Farel sambil mengelus kepala Tya.
“Hem.”gentian, sekarang Tya yang kesal dengan Farel.
“Tya nah, jangan marah.”Farel memohon.
“Hem hem hem.”Tya hanya berdeham dan Farel akhirnya semakin koneng.
“Tya mungkin emang nggak bisa percaya lagi yah sama aku? Yasudah, aku pulang aja. Malam Tya, besok pagi aku jemput yah kita berangkat bareng buat tehnikal meeting.”kata Farel dengan suara rendah.
“Hem.”dan lagi-lagi Tya hanya berdeham.
“Maafin Farel yah Tya,”itu kalimat terakhir yang diucapkan Farel dan ia langsung meninggalkan Tya.
Resek! Bukannya dibikin sampai maafin, malah langsung pulang. Tya mengutuk pacarnya dalam hati, dia yang awalnya hanya pura-pura akhirnya benar-benar kesal.
Sedangkan Farel yang pergi dengan jalan pelan sangat berharap Tya tahan. Nggak usah ngarep, Tya marah, dasar bego! Ucap Farel dalam hati. Iya, Farel sangat berharap Tya bisa menahannya untuk tidak pergi dan berkata, “Farel aku nggak marah kok.” Tapi ternyata, Tya benar-benar kesal dan tidak menahannya sama sekali. Ia malah membiarkan Farel pergi.

  *here we go!  the problem is beginning........ keep reading :)

Selasa, 03 April 2012

Part I


The Way We Meet

“Ketemu kamu lagi aja udah sesuatu banget, aku janji deh nggak bakal pergi, tapi kamu janji jangan pergi juga yah?”- Nico

“Hay!”sapa seorang cowok yang hampir dilupakan Tya.
“Eh, hello?”sapa Tya balik sambil bertanya-tanya siapa cowok di depan matanya.
“Lupa sama aku ya?”tanya cowok itu dengan nada sedikit kecewa.
“Ehehehe. Iya, maaf siapa yah? Tapi familiar kok sama mukanya, tapi siapa yah?” ucap Tya cengengesan karena merasa canggung.
“Nico, masih lupa? Temen dulu sebelum kamu pindah rumah,”cowok yang mempunyai kulit putih dan lesung pipi itu mencoba untuk mengingatkan.
“Ya Tuhan, Nico? Sudah besar kamu! Hahahaha. Ahh kangen banget, pantesan, sorry ya lupa, udah lama banget nggak ketemu, lagian masih satu kota tapi nggak pernah ketemu ya kita. Uda segede ini, baru ketemu,”jelas Tya dengan sangat excited.
“Kamu juga, udag gadis, makin cantik dan nggak berubah-berubah, tetep riang. Seneng banget bisa ketemu lagi, btw sama siapa? Sendiri aja?”Nico sangat senang, akhirnya cewek cerewet teman kecilnya ini, masih inget sama dia.
”Iya, sendirian. Kamu?”tanya Tya balik.
”Sama deh, yauda ntar pulang aku mampir ke rumah kamu dulu yah? Udah lama banget nggak main, hahaha.”pinta Nico.
”Okee, mau main apa? Main mobil-mobilan, Co?”canda Tya.
Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk ngobrol di rumah Tya. Sore itu menjadi sore terindah untuk dua teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
”SMA lanjut mana, Ty?”tanya Nico. Berharap mereka bisa satu sekolah.
”Mungkin, di SMA Negeri 21, Co. Kamu dimana,Co?”tanya Tya balik.
“Wah, kebetulan aku juga. Asik. Berarti bisa satu sekolah ntar SMA.”ucap Nico.
Mereka berdua sama-sama merasakan hal yang sama. Senang luar biasa, entah kenapa.
”Rasanya kayak ketemu sebagian dari diri kita yang lama hilang,”kata Nico dalam hati. Terharu seneng, semua jadi satu.
”Pokoknya seneng aja, ntah kenapa. Maklum aja lah, dia kan temen kecil yang uda lama nggak ketemu,”kata Tya meyakinkan perasaannya.
”Eh, minta nomer hp doong, hahaha.”
”0821541813”
”Kalau aku sms ada yang marah nggak, Ty?”
”Ada sih, wkwk”
”Maklum deh, cewek cantik. Masak nggak punya pacar yah.”
“Bisa aja, nggak juga ah. Sms aja.”
”Yakin? Ntar ada yang ngamuk dimana?”
“Hahaha. Itu masalah aku, Co.”
”Yauda deh, see ya ASAP!”
“Iya”
Pertemuan mereka ditutup dengan senyum manis Tya dan rasa bahagia mereka yang nggak bisa diutarakan sama kata-kata. Kadang-kadang Tya suka keinget teman masa kecilnnya, Nico. Begitu pula dengan Nico. Mereka berdua diam-diam berharap dapat bertemu lagi. Akhirnya, harapan mereka pun menjadi nyata. Mereka bertemu.

*ini cerita bersambung, ditunggu aja yah kelanjutannya. Keep reading gals! ;;)

Senin, 20 Desember 2010

Percakapan III

Percakapan Dengan Bayangan III (Si Pengfitnah)

”Ingin membenci ku tak bisa

Ingin menyayangi ku tak sanggup

Apa kabar hati? Kok jadi mati rasa gini?”

Jum’at sore, waktu itu ku rasakan perasaan lelah, muak, benci, kesal, jadi satu. Ntah apa yang tlah terjadi yang jelas aku sangat muak dengan permainan hidup. Seperti biasa, sepulang dari sekolah sore itu aku langsung mengambil air wudhu dan solat magrib. Ntah apa yang membuat ku lagi-lagi menitikan air mata ku di sajadah ku. Lama ku duduk berdo’a sampai sampai waktu isya. Lagi-lagi ketika sujud terakhir ku, ku jatuhkan air mata ku dengan derasnya, kali ini ku sadari apa yang tlah membuat ku menangis.

Selesai solat, ku pandangi wajah lemas dan mata sembab setelah menangis ku itu di cermin. Dan lagi-lagi bayangan itu menghampiri ku. Ahh, sebenarnya aku tak ingin bertemu dengannya lagi.

”Wahai sahabat, apa lagi yang terjadi dengan mu?”tanyanya dengan santun.

”Ntah aku ragu dengan ini,”jawab ku dengan nada rendah.

“Ceritakan saja, sapa tau aku bisa membantu mu,”katanya pada ku.

”Apa pantas aku dikatakan seorang penganggu? Yang mengusik hubungan dari mantan ku, pantas kah aku di panggil orang ketiga?”tanya ku sedikit emosi.

”Apa yang tlah kamu lakukan, sehingga hal itu terjadi?”tanyanya pada ku.

”Ntah, aku sendiri bingung. Aku hanya ingin kebenaran dari sebuah perasaan. Aku hanya ingin seseorang berhenti membohongi dirinya sendiri,”jawab ku.

”Lantas? Apa kau berhasil?”tanyanya lagi.

“Tidak sama sekali, dia salah paham, dia malah berfikir aku ingin merebutnya, dia malah berfikit aku ingin menggangunya, dan cukup sampai akhirnya aku mereka panggil ‘orang ketiga’ bahkan ‘setan’,”jawab ku.

“Sungguh tak ada niat lain selain itu?”tanyanya lagi.

”Sungguh, bahkan aku tak memiliki niat untuk melakukan itu. Aku baik-baik saja dengan keadaan ku sekarang. Tapi apa daya, kawan-kawan ku memaksa ku untuk menanyakan hal tersebut, sempat terlintas dalam otak ku ’apa dosa aku menanyakan hal seperti ini padanya?’ tapi kata mereka, aku harus dan ya aku lakukan itu kerena keinginan mereka bukan keinginan ku,” kata ku menjelaskan.

”Tunggu, kamu tau dari mana kalau mereka berkata seperti itu?”tanya bayangan.

”Hem, dari teman-teman ku,”jawab ku.

”Waah, jadi kamu difitnah? Sudah lah, mungkin kamu juga ada salah. Biar Tuhan yang tunjukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku tau manusia cuek seperti mu bisa menghadapi ini dengan senyuman,”kata bayangan padaku.

”Ya, tapi rasanya tak percaya difitnah terlebih yang melakukan orang yang menyangi mu, ya katanya. Tapi aku tau, cuman sakit rasanya difitnah seperti ini, punya image jelek di mata orang lain, yang tak tau apa yang terjadi sebenarnya,” kata ku.

”Ya cukup diam, dan mendengarkan. Aku tau kamu bukan perempuan lemah seperti mereka di luar sana. Kamu kuat dan kamu cukup tau apa yang harus kamu lakukan. Buka mati hati kamu, lupakan dia,”kata bayangan itu.

”Ya aku tak tau, aku mungkin tampak bodoh meyangi seseorang yang sama sekali ntah menyanyangi ku atau tidak, tapi cukup tau dan ku rasakan perasaan itu, walau tak pernah ku dengar kalimat itu dari bibirnya, tapi ku rasakan hal itu. Aku masih percaya dia menyayangi ku, tapi kenapa? Kenapa dia dengan teganya mengatakan hal itu pada semua orang? Aku ingin membencinya, aku ingin menamparnya, dan mencaci makinya, atas apa yang tlah ia lakukan, tapi cukup tau aku masih sangat menyayanginya,” lagi-lagi air mata ku jatuh sia-sia untuk orang yang tak pantas untuk ku tangisi.

”Hapus air mata mu, kamu cukup bijak menyikapi masalah mu, kamu cukup tau apa yang harus kamu lakukan,”katanya dan menghilang.

Tak sanggup ku paksakan diri untuk membencinya. Walau ku sadari diri ini cukup muak harus trus-trusan ia sakiti. Tapi sungguh, tak sanggup. Tetap saja aku menyayanginya. Biarlah, ku tak ingin menjadi orang yang suka membohongi perasaan ku.

by Miranti

Selasa, 26 Oktober 2010

Percakapan II

Percakapan dengan Bayangan part II

Lihat lah dia yang disamping mu

Aku masih disini, terjatuh dan tak dapat bangkit

Cukup sekali kau berbalik dan memandag ku

Aku tak butuh senyum mu, atau kau bantu untuk bangkit

Aku hanya butuh waktu untuk merelakan, dan bangkit dari sini

Hari sabtu, 23 oktober 2010. Hari ini tak seperti biasa ku terbangun cukup pagi, dengan tidur yang cukup malam, sekitar jam dua lewat tiga puluh lima menit. Aku tersenyum melihat wajah ku di kaca. Ku beri senyuman pada sosok orang yang ada dalam bayangan kaca. ‘manis’ bisik ku.

‘Tapi cukup munafik kawan ku,” jawab sosok bayangan itu.

“Astaga untuk apalagi kau datang, aku sudah tak butuh kau, tau kau?” bentak ku padanya.

“Yakin? Setelah kejadian semalam?”tanyanya dengan nada mengejek ku.

“Sialan kau, tau dari mana soal itu?”tanya ku pada bayangan itu.

“Ya tau lah, apa kau tak sadar? Aku selalu ada di samping aku bayangan mu yang tau siapa diri mu yang sebenarnya, bahkan apa yang tak engkau ketahui sekali pun dari diri mu aku tau!”kata bayangan itu pada ku.

“Apa? Seberapa tau kamu tentang aku? Oh Tuhan kenapa begitu banyak orang yang sok tau sama diri ku,” kata ku mengeras.

“Hahaha. Kamu yang sok tau sama diri kamu sendiri? Munafik kamu tau munafik? Ya kamu lah yang munafik!”kata bayangan itu membuat ku makin geram.

“Trus apa yang kamu inginkan dari ku?”tanya ku melunak.

“Ambil saja dulu handphone mu,”suruhnya pada ku. Ku ambil handphone ku.

“Lalu buka inboxnya, aku yakin sms itu berada paling atas,”suruhnya lagi.

“Lalu?”tanya ku.

“Bacakan untu ku,”katanya.

“Sudah bisa lupain aku ya? Boleh tau gimana caranya?”ku bacakan sms itu ntah lah kali itu hati ku terguncang membaca sms itu beda jauh saat semalam pertama kali ku baca sms itu.

“Dari siapa sms itu?”tanya banyangan seakan tak tau.

“Sudah lah tak usah terlalu banyak basa basi, kau cukup tau siapa orang itu! Aku tak ingin mengucapkan namanya di depan mu,” kata ku mulai kasar lagi.

“Oke, setelah kamu baca apa yang kamu rasakan?”tanyanya seolah tau guncangan dahsyat dalam dada ku yang baru saja terjadi, bahkan yang sampai saat itu masih terasa kerasnya.

“Biasa saja,”kata ku berbohong.

“Munafik, sekali ku tanya, apa yang kamu rasakan setelah ini?”tanyanya lagi.

“Biasa saja, kau mengerti kata biasa? Aku tak merasakan sesuatu!”kata ku meyakinkannya.

“Mesti aku bilang berapa kali munafik, aku tau apa yang kamu rasakan, semua tentang kamu aku tau! Ku tanya sekali lagi, apa yang kamu rasakan?”tanya bayangan itu lagi.

“Biasa saja, aku tak merasakan apa pun, sms biasa,”jawab ku datar pada bayangan itu.

“Dasar munafik, kau bohongi aku lagi, sekali lagi ku tanya apa yang kamu rasakan?”tanyanya kali ini bayangan itu tampak marah.

“Ya, aku merasakan guncangan dalam hati yang cukup kuat,”akhirnya ku jawab pertanyaanya dengan titikan air mata.

“Dasar cengeng, apa tak ada hal lain yang dapat kau lakukan selain menangisi kemunafikan mu itu? Hahaha. Bahkan itu sama sekali tak akan membuatnya kembali padamu!”katanya mengejek ku.

“Buat apa kau tanyakan hal yang tlah kau ketahui? Mengapa tak langsung saja kau berikan ku saran? Kau tau bukan apa yang terjadi pada ku?”tanya ku padanya.

“Ahh sudah lah, ikuti saja apa yang ku perintah, jawab dengan jujur apa yang ku tanya, jangan berbohong atau tak akan kau dapatkan jawabannya!”katanya membentak ku.

“Lalu?”tanya ku.

“Jawab sms itu dengan jujur kata kan saja pada ku,”suruhnya

“Aku belum melupakan mu, bahkan sedikit pun kenangan itu belum ada yang hilang dalam otak ku. Kalau mungkin kamu memikirkan aku melupakan mu, mungkin itu karena aku sudah nyaman dengan situasi ku yang sekarang. Aku cukup bahagia dengan semua teman-teman ku yang peduli dan selalu setia menghibur ku. Aku pikir juga tanpa mu tidak seburuk yang aku bayangkan,”kata ku memenuhi permintaan bayangan.

“Bagus, lalu mengapa kau malah membalas smsnya dengan sindirian tajam atas apa yang ia lakukan pada mu? Kau membalasnya dengan kalimat “yang jelas nggak dengan cara nyari orang lain buat dijadikan pelarian”. Bisa kau jelaskan?”tanyanya.

“Semalam aku cukup kaget dengan sms itu, aku pikir dia yang sudah melupakan ku. Bahkan aku pikir dia sudah tak punya niat untuk sekedar menyapa ku, ya aku bukan siapa-siapanya lagi. Aku hanya mantan pacarnya yang pernah menyia-nyiakannya. Tak lebih baik dari pacarnya yang sekarang. Ya mungkin dia cukup bahagia bersama pengganti ku. Tapi ketika ku baca smsnya beribu pertanyaan datang. Apakah ini hanya sebuah betuk kasian dia terhadap aku yang tlah ia sakiti? Atau memang tulus karena ia perhatian pada ku? Atau karena dia takut aku benar melupakannya? Ya tapi semua cukup jelas, lihat lah aku, aku masih jomblo. Tak seperti dia, dia tlah memiliki pengganti ku. Aku pikir, aku memang belum dapat melupakannya. Jadi lebih baik aku bertahan menjadi seperti ini, ketimbang harus menyakiti seorang lelaki lagi,”kata ku jelas.

“Lalu? Mengapa kau balas smsnya dengan kalimat yang seperti itu? Kau belum menjawab pertanyaan ku kawan,”tanyan lagi.

“Karena aku kesal padanya, dia seolah mengejek ku, dia seolah menanyakan ku siapa orang yang dapat membuat mu melupakan ku. Atau dengan kata lain siapa nama pacar baru mu. Ya mungkin salah aku tidak postif thinking dulu, tapi kalau pun memang ia mengirimkan itu karena ia takut aku melupakannya, untuk apa? Dia cukup bahagiakan dengan perempuan baru itu?”tanya ku.

“Tau dari mana kamu tetang itu? Apa kamu tau apa yang ia rasakan? Ia pikirkan? Apa kamu tau ia sedang bahagia atau tidak?”tanya bayangan. Aku hanya terdiam.

“Kau tak tau apa-apa tetang mantan mu itu. Yang kamu tau bagaimana membuat mu bahagia dengannya, tanpa memikirkan perasaannya dan kebahagiaannya. Kurang baik apa mantan mu itu? Sekarang kamu menyesal iya bukan?”

“Berhenti dan pergi kalau yang kamu lakukan hanya untuk mengungkit semua kesalahan ku!”kata ku padanya sambil menangis.

“Tak ada kah jalan untuknya lagi?”tanya bayangan itu.

“Kau tau bukan semua tentang ku? Jawab lah itu sendiri!”kata ku berat karena air mata yang berjatuhan semakin banyak.

“Maafkan aku, tapi berhenti lah membohongi diri mu sendiri. Kau tau apa yang terbaik buat diri mu. Tapi mengapa selalu kau berikan yang salah untuk dirimu sendiri?”katanya pada ku. Aku tetap memangis dan tak ku jawab lagi perkataannya.

Akhirnya bayangan itu pergi, aku hanya terdiam menatap sosok di cermin. Air mata itu masih berjatuhan. Aku tau aku cukup munafik sebagai seorang yang masih mecintainya. Tapi aku hanya tak ingin melihat pasangannya terluka karena aku yang masih menyimpan rasa. Aku cukup sadar aku bukan lah siapa-siapa. Tapi salah kah aku kalau aku tetap menyimpan rasa ini? Terlalu indah untuk ku buang, terlalu manis untuk ku telan, namun terlalu pahit untuk ku rasakan.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Percakapan

Percakapan dengan Bayangan

Bahkan bayangan mu merasakannya

Berehenti membohongi diri mu

Lihat lah, betapa indah hari esok

Alarm berbunyi, ku terbangun dari tidur lelap ku. ‘Hoam,’ aku menguap dan megangkat kepala ku dari bantal yang selalu menemani ku tiap malam. Yang ikhlas ku tetesi air mata ku ketika ku sedih. ‘Ugh’ ku renggangkan seluruh tubuh ku dan perlahan turun dari tempat tidur. Ku buka jendela kamar ku, dan sinar matahari menyambut ku. Seolah berkata ‘Good morning, I ready light your day, are you ready for today? Don’t be sad, keep smile to me.’ Aku tersenyum dan berkata ‘Thanks, I’ll try it’.

Segera ku ambil handuk dari gantungan belakang pintu kamar. Masuk ke dalam kamar mandi. Hal yang selalu ku lakukan di hari libur, berlama-lama di dalamnya. Merasakan sentuhan dingin air yang melunturkan semua kelelahan ku dalam minggu ini. Bermain-main dengan air yang mengalir. Sampai tak terasa tlah ku habiskan waktu lama di dalam sini. Segera ku keringkan badan ku.

Lekas ku pasang pakaian. Lalu duduk di depan meja rias ku. Ku pandangi wajah ku. Mata ku tampak sendu. Terlihat jelas, bekas tangisan ku semalam. Tiba-tiba tampak bayangan itu menyapa ku.

“Hey kawan apa yang anda pikirkan?” tanyanya ramah.

“Seorang laki-laki yang tlah lama mengisi ruang kosong di hati ku,”jawab ku pelan

“Apa kamu yakin dia masih memikirkan mu?”tanyanya lagi

“Tentu saja tidak, mungkin otaknya hanya ada perempuan itu,”jawab ku

“Lalu, mengapa kau lakukan itu trus menerus?”tanya bayangan itu penasaran.

“Ntah lah, aku masih teringat semua kesalahan yang tlah ku lakukan kepadanya,” jawab ku dengan nada sedikit rendah dari awal.

“Kesalahan apa yang kamu lakukan padanya?”tanya bayangan.

“Ku menyia-nyikannya, mempermaikannya dan tlah menyakitinya,”kata ku sambil menitikan air mata yang tak sengaja terjatuh.

“Lalu?”tanya bayangan seolah tau ada hal lain yang masih ku sembunyikan.

“Ya, aku tak ingin melakukannya sungguh. Tapi mungkin aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan ego dan perasaan ku tanpa memikirkan perasaanya. Aku takut, takut menunjukan semua perasaan ku. Aku takut disakiti dan kecewa pada akhirnya,”jawab ku dan tak ku rasa air mata telah banyak berjatuhan.

“Kau menyesal?”tanyanya.

“Sangat,”jawab ku berat.

“Berhenti lah menangis kawan,”katanya pada ku.

Aku terdiam dan hanya dapat melihat bayangan itu. Masih ku teteskan air mata ku. Semakin deras keluar deras sampai ku tak dapat lagi berkata-kata.

“Sering ku lihat akhir-akhir ini mata mu sembab, ku tau ku lihat air mata mu yang menetes pada bantal tidur mu. Seandainya ia dapat berkata. Mungkin ia akan memohon juga pada mu, untuk berhenti menyesal dan menangisinya. Sering ku lihat wajah munafik mu yang kamu tunjukan pada semua teman-teman mu. Sekedar ingin dianggap wanita tegar nan ikhlas. Senyum manis yang biasa kamu berikan, tak semanis biasanya. Terasa hambar, walau tlah kau coba seikhlas mungkin memberikannya pada semua orang. Berhenti menyesali apa yang tlah terjadi, tak akan pernah mengubah segalanya,”kata bayangan sentak membuat ku sadar.

“Iya, namun ku sesali segala perbuatan ku kepadanya. Kesalahan ku yang tlah ku buat, aku tak sanggup harus merasa bersalah,”kata ku dengan suara serak.

“Minta maaf lah kawan, pintu maaf masih terbuka untuk mu, belum terlambat. Tiap-tiap manusia pernah melakukan kesalahan dan mempunyai hak untuk memperbaik kesalahannya,”katanya pada ku

“Tapi semua tlah terlambat bukan untuk ku perbaiki?”tanya ku pada bayangan.

“Cukup minta maaf, mungkin akan membuat mu lebih lega,”katanya pada ku.

“Oke, akan ku coba,”kata ku.

“Tapi tunggu, bagaimana dengan rasa sakit ini? Aku masih merasakannya?” tanya ku pada bayangan itu.

“Untung kau ingatkan aku dengan hal yang satu ini, padahal ini yang terpenting,”kata bayangan kepada ku.

“Bagaimana?”tanya ku lagi.

“Terima lah apa yang tlah Tuhan berikan pada mu, bersyukur atas apa yang tlah terjadi pada mu. Terkadang Tuhan memang tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuh kan,”kata bayangan sambil tersenyum dan menghilang.

“Terima kasih,” kata ku sambil tersenyum dan ku hapus air mata yang menetes di pipi ku.

Ku tersenyum lega. Ku sadari bahwa segala penyesalan yang ku lakukan tidak berguna sama sekali. Ku ambil secarik kertas dan ku tulis sebuah surat untuknya.

Dear my ex,

Minta maaf kalau selama ini pernah nyakitin kamu. Mungkin selama ini aku jahat banget sama kamu. Sampai sesakit ini balasan yang kamu kasih ke aku. Aku nggak berharap lebih kamu bisa memaafkan ku. Cukup tau kamu aku ngerasa bersalah udah lebih dari cukup. Mungkin ini yang terbaik. Sayangi dia seperti saat kamu menyayangi ku. Nggak mudah buat aku melupakan segala yang telah terjadi diantara kita.

Salam

Ku baca ulang surat yang ku tulis. Ku tersenyum dan ku lipat surat itu. ‘Aku harap surat ini dapat secepatnya kamu baca’ harap ku dalam hati.


Minggu, 10 Oktober 2010

Aku Ingin Sendiri Dulu

Lebih baik ku biarkan diri ini sendiri

Lebih baik ku biarkan diri ini kesepian

Ku tau, ku sadar, dan ku paham

Aku sama sekali tak pantas untuk bahagia bersamanya


“Kak, jadi tidur di pondok nenek?”tanya papa.

“Jadi doong pa, ayook pergi,”ajak Ara

Malam minggu ini Ara habiskan waktunya bersama keluarga. Kebetulan di rumah cuman bertiga, adeknya sedang pergi keluar kota bersama omnya. Ya akhir-akhir ini setelah putus dari pacarnya, dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sekedar bantu mama motong sayur di dapur, nonton film bareng papa, atau bercanda sama keluarga. Waktu yang tersisa setelah sibuk belajar di sekolah dia habiskan bersama keluarganya. Tampaknya ia mulai terbiasa dengan hal itu, dan kelihatan sekali dia tampak bahagia sekarang.

“Assalamualaikum,”Ara memberi salam sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam,” jawab nenek sambil membukakan pintu.

“Aku mau tidur disini ya nek, hehehe. Di rumah sepi nggak ada yang bisa diajak berantem sih,” kata Ara pada neneknya.

“Yaudah, tidur aja sini,”jawanb nenek.

Setelah dia makan-makan dan duduk-duduk di teras pondok neneknya. Ngantuk pun menyergapnya. Ia pun langsung pergi ke kamar untuk tidur. Waktu sudah menunjukan hari sudah malam, jarum jam sudah mengarah pada angka 10. “Pantas sudah lewat dari jam tidur ku yang biasa” katanya dalam hati. Ia pun mulai tertidur lelap. Dua jam kemudian ia mendengar suara hpnya berdering segera ia angkat telfon itu, dia teringat janjinya untuk menemani Aziz sahabatnya begadang mala mini.

“Iya ziz, kenapa? Ngantuk banget nih,”tanya Ara

“Ra, aku sayang sama kamu,”kata Aziz

“Iya aku juga kok ziz, hoaaam,” jawab Ara sambil menguap

“Ra, cewek yang aku ceritain yang aku bilang mau aku tembak itu kamu. Mau nggak?” tanya Aziz, Rara pun langsung kaget.

“Apa? Astaga, tapi kamu tau sendiri aku baru putus ya nggak baru sih, tapi aku masih sayang sama dia, aku nggak mau cuman jadiin kamu pelampiasan dan akhirnya sama lagi aku nyakitin orang yang sayang sama aku, nggak mau ahh ziz” jawab Ara.

“Yah,”Aziz kecewa.

“Maafin aku, tapi aku lebih nyaman sahabatan sama kamu, terima kan ya?” Ara merasa bersalah.

“Iya Ara, nggak apa-apa kok, aku maklum,”jawab Aziz sedikit membuat Ara lega

“Yauda deh, bobo gih udah malam,”kata Ara

“Sip bos,”jawab Aziz yang langsung memutuskan telfon.

Imipian semua orang bisa jadian pas tanggal 10 bulan 10 tahun 2010 pas jam 00:00. Kurang apa bagusnya itu tanggal, sempurna banget. Tapi di mata Ara, dia belum bisa berubah jadi seorang yang lebih baik, yang bisa menghargai perasaan seorang laki-laki. Dan menjadi seseorang yang tidak selalu menyia-nyiakan orang yang menyayanginya. Ia sadar betul akan kekurangannya itu. Dia pikir lebih baik ngejomblo kesepian, ketimbang pacaran dan hanya bisa menyakiti perasaan pasangannya.

Lagi pula dia masih terlalu sayang sama mantannya dan nggak adil kalau dia nerima Aziz cuman untuk pelampiasan saja. Cukup itu terakhir kalinya dia menyakiti perasaan orang sebaik mantannya.